Advertisement

Wayang Kulit

Tampilkan
      Kesenian tradisional yaitu Seni Pertunjukan Wayang Kulit adalah salah satu pertunjukan budaya yang berasal dari tanah Jawa, Indonesia. Diketahui wayang bersal dari kata "Ma Hyang" yang artinya menuju kepada sang pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Namun masyarakat Jawa mengartikan kata Wayang sebagai istilah Bahasa Jawa yang berarti "Bayangan", karena seni pertunjukan ini dimainkan dibalik layar kain putih (Kelir) dan dipantuli oleh sinar lampu di depan Wayang atau dibelakang Operator yang memainkan Wayang dan dinikmati dengan melihat bentuk bayangan Wayang yang dimainkan serta telah dipantulkan oleh lampu Tembak. 
      Wayang Kulit dimainkan oleh seorang operator yang disebut Dalang, yang juga berprofesi sebagai Narator untuk menyampaikan cerita melalui gerakan wayang yang ia mainkan. Iringan musik yang merdu dibawakan oleh pemusik dengan alat musik tradisional Indonesia yaitu Gamelan. Jenis musik yang biasa dimainkan adalah musik Keroncong, dengan tembang lagu sesuai tema yaitu yang dinyanyikan oleh Beberapa penyanyi Wanita yang disebut Sinden.

      Wayang kulit dibuat dari bahan kulit hewan kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, perbuah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 cm x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang digunakan yaitu besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda. 


      Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi. Tangkai yang fungsinya untuk menggerak bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang ditempel atau bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang menggunakan prada, hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama dibandingkan dengan yang bront.


      Adapun berbagai macam seni pertunjukan Wayang Kulit yang memiliki ciri khas masing masing yang berasal dari daerah-daerah pedalaman Jawa. yakni :
  1. Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta
  2. Wayang Kulit Gagrag Surakarta
  3. Wayang Betawi (Jakarta)
  4. Wayang Cirebon (Jawa Barat)
  5. Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
  6. Wayang Kulit Gagrag Jawa Timuran
  7. Wayang Madura (sudah punah)
  8. Wayang Siam

Serta ada pula Wayang yang berada di daerah pulau jawa Yakni

  1. Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)
  2. Wayang Bali 
  3. Wayang Palembang (Sumatera Selatan)
Pict : Bayu-bumi30.blogspot.com, Infowisataku.com, Jogjanews.com

Gunung Dempo, Pagar Alam

Tampilkan
      Sumatera adalah pulau terbesar keenam di dunia yang terdapat di indonesia. Pulau ini memiliki barisan pegunungan yang memiliki nama yaitu Bukit Barisan. Dalam barisan pegunungan ini terdapat sebuah gunung yang sangat baik tempat berwisata yaitu gunung Dempo. Gunung Dempo dengan tinggi 3159 mdpl terletak pada perbatasan provinsi Sumatera Selatan dengan provinsi Bengkulu, tepatnya pada titik koordinat 4.03°LS 103.13°BT. Jarak tempuh menuju gunung dempo yaitu sekitar 6-7 jam melalui perjalanan darat.

      Meski gunung ini cukup tinggi, akan tetapi air jernih yang ada terdapat sampai setengah perjalanan ke gunung ini sehingga para pendaki serta para pecinta alam tidak perlu khawatir kehabisan air minum selama perjalanan menuju ke puncak. Gunung ini ditumbuhi dengan tumbuhan yang mirip seperti yang kita dapati di gunung Gede Pangrango, yaitu hutan montana . kemiringan lereng sendiri cukup curam untuk memeras keringat. Tidak ada tanda-tanda khusus, keadaan hutan ini hampir homogen dan sangat hening.

      Pendakian menuju kepuncak utama gunung Dempo tidak terlalu sulit karena lerengnya terdiri dari kerikil dan batu-batu dengan kemiringan lereng sekitar 40° (stabil untuk didaki). Puncak utama gunung Dempo (3158 m), Merupakan kawah gunung berapi yang masih bergejolak dengan diameter sekitar seratus meter persegi. Dinding kawah cukup curam serta tidak mungkin bisa dituruni tanpa batuan tali serat sintesis. Pemandangan yang bisa dilihat dari puncak sangat luarbiasa menkjubkan. Selain kawah yang memberikan kesan khusus, tampak juga terhamparan provinsi Bengkulu dengan Lautan Hindia serta hamparan lembah yang sunyi dan hening. Perjalanan turun hanya memakan waktu dua jam. Bila kemalaman anda bisa menginap di Dusuun VI, dengan terlebih dahulu minta izin kepala keamanan di sana.


Picture : bopengmampir.blogspot.com, g4lax1.blogspot.com
      

Sejarah Jam Gadang Bukittinggi

Tampilkan
      Jam Gadang adalah sebuah sebutan atau nama dari sebuah menara jam yang terletak di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Pada menara ini terdapat 4 buah jam dengan diameter masing-masing 80 cm, jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan  Big Ben di  London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman (Benhard Vortman) yakni nama belakang pembuat mesin dari jam gadang tersebut, sedangkan Recklinghausen sendiri adalah nama sebuah kota di Jerman dimana kota tersebut merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.
      Jam Gadang memilik denah dasar seluas 13 x 4 m. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat Gempa bumi Sumatera Barat Maret 2007 silam.
      Menara ini sering digunakan masyarakat setempat bahkan pendatang sebagai tempat taman wisata atau taman rekreasi di Bukittinggi. Seperti malam pergantian tahun contohnya, jam gadang menjadi suatu tempat terfavorit masyarakat Sumatera Barat umumnya serta warga Bukittinggi khususnya untuk menikmati malam Tahun Baru.

Keunikan Bangunan
        Salah satu keunikan yang sangat menakjubkan dari bangunan ini adalah struktur pembangunan dan bahan-bahan bangunan yang umumnya digunakan sebagai bahan utama bangunan malah tidak digunakan pada pembangunan menara Jam Gadang ini. Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan Besi peyangga dan adukan Semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih
      Entah disengaja ataupun tidak disengaja, diketahui terdapat kesalahan penulisan pada angka romawi yang menunjukkan pukul "4" pada desain ukiran Jam Gadang. Dalam lingkaran jam tertulis angka dengat font tulisan romawi, disini dapat kita perhatikan pada gambar. Penulisan angka "4" yang seharusnya ditulis dengan angka romawi "IV" entah mengapa pada ukiran bangunan pada Menara ini tertulis "IIII" (empat batang hutuf I) yang artinya satu batang huruf "I" bernilai "1".

Sejarah Jam Gadang
Dikutip dari wikipedia.org
      Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazin Sutan Gigi Ameh, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun. Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol kota Bukittinggi.
      Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian pada masa Pendudukan Jepang di Indonesia|pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk klenteng. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah ada   Minangkabau, Rumah Gadang.

Pict : notnowshare.blogspot.com, hambud.wordpress.com, my.opera.com

Kujang - Pusaka Padjajaran

Tampilkan
      Masyarakat Sunda Jawa Barat khususnya di Pasudan (tatar Sunda) memiliki sebuah senjata khas yaitu Kujang. Kujang adalah senjata yang memiliki desain yang sangat unik dan tidak memiliki kemiripan atau kesamaan dengan jenis desain Senjata lain di Indonesia. Pemerintah Jawa Barat berusaha untuk memperkenalkan Kujang sebagai Senjata Khasnya, di Bogor contohnya, replika Kujang dibentuk di atas sebuah bangunan Tugu pada monumen kota Bogor.

      Hubungan antara Pusaka Kujang dengan kerajaan Padjajaran yaitu pada pemberian nilai Kujang sebagai sebuah jimat atau azimat, pertama kali muncul dalam sejarah Kerajaan Padjadjaran, Makukuhan dan Panjalu. Tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Kudo Lalean (Prabu Kuda Lelean). Raja ini juga dikenal oleh masyarakat sunda sebagai Hyang Bunisora dan Batara Guru di Jampang karena menjadi seorang petapa atau resi yang mumpuni di Jampang (Sukabumi).

      Senjata Ini dikenal sebagai benda tradisional masyarakat Sunda Jawa Barat yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magic. Beberapa peneliti  menyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata ''kudi hyang'', Kudi berasal dari bahasa sunda kuno yang memiliki makna senjata pusaka (senjata yang memiliki kekuatan gaib) sedangkan Hyang berarti suci. Akan tetapi Kujang juga diyakini masyarakat berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia (manusa), yakni manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi (Raja Kerajaan Padjajaran).

      Jika ditinjau dari historisnya awalnya Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno "Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian" (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Adapun bukti yang memperkuat pernyataan bahwa adanya Kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat suku Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.  Seiring berkembang dan semakin pekatnya kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

      BAGIAN BAGIAN KUJANG :
  • Papatuk (Congo); bagian ujung kujang yang runcing, gunanya untuk menoreh atau mencungkil.
  • Eluk (Siih); lekukan-lekukan atau gerigi pada bagian punggung kujang sebelah atas, gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh.
  • Waruga; nama bilahan (badan) kujang.
  • Mata; lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang pada awalnya lubang- lubang itu tertutupi logam (biasanya emas atau perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan hanya sisasnya berupa lubang lubang kecil. Gunanya sebagai lambang tahap status si pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata, malah ada pula kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.
  • Pamor; garis-garis atau bintik-bintik pada badan kujang disebut Sulangkar atau Tutul, biasanya mengandung racun, gunanya selain untuk memperindah bilah kujangnya juga untukmematikan musuh secara cepat.
  • Tonggong; sisi yg tajam di bagian punggung kujang, bisa untuk mengerat juga mengiris.
  • Beuteung; sisi yang tajam di bagian perut kujang, gunanya sama dengan bagian punggungnya.
  • Tadah; lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang, gunanya untuk menangkis dan melintir senjata musuh agar terpental dari genggaman.
  • Paksi; bagian ekor kujang yang lancip untuk dimasukkan ke dalam gagang kujang.
  • Combong; lubang pada gagang kujang, untuk mewadahi paksi (ekor kujang).
  • Selut; ring pada ujung atas gagang kujang, gunanya untuk memperkokoh cengkeraman gagang kujang pada ekor (paksi).
  • Ganja (landéan); nama khas gagang (tangkai) kujang.
  • Kowak (Kopak); nama khas sarung kujang. 

Rumah Adat - Omo Sebua

Tampilkan








      Wisata ke Pulau Nias akan terasa tidak lengkap jika tidak melihat objek wisata dari tradisi masyarakat, sejauh ini yang kita ketahui atau mungkin yang populer di Pulau Nias adalah tradisi FahomboNamun ternyata tidak hanya itu yang menjadi tujuan utama pariwisata ke Pulau Nias sebab di pulau yang memiliki objek wisata sejarah Pulau Nias yaitu rumah adat tradisi masyarakat Nias. Omo Sebua, Itulah sebutan masyarakat pada rumah adat ini, bangunan rumah ini adalah bangunan Rumah Raja. Keberadaan bangunan ini tampaknya tak hanya sekedar menjadi simbolisasi peradaban masyarakat Nias yang pernah berjaya di masa lampau, sebab bangunan ini merupakan bangunan yang penting yang mempunyai nilai-nilai sejarah yang tinggi sehingga keberadaannya begitu dilestarikan oleh masyarakat Nias..
      Di Desa Bawomataulo, bangunan Omo Sebua ini masih tetap dijadikan sebagai tempat tinggal oleh tokoh atau orang yang kedudukannya sangat berpengaruh di perkampungan tersebut. Biasanya seseorang tersebut disebut sebagai sesepuh atau kepala adat yang memiliki tugas sangat penting dalam menjaga kelestarian budaya-budaya di Nias. Maka tak heran lagi, apabila bangunan Omo Sebua yang terdapat di Desa Bawomataulo ini merupakan bangunan utama yang menjadi tujuan wisata penting selain tradisi Lompat Batu.
      Bangunan Omo Sebua ini tak lepas dari pengaruh zaman megalitikum yang pernah ada di Pulau Nias. Tepatnya pada pertengahan abad ke-16 atau sekurangnya 400 Tahun yang lalu. Tahun ini merupakan tahun dimana beberapa raja-raja di Pulau Nias ini mengalami puncak kejayaannya. Pada masa itu, bangunan Omo Sebua ini dikhususkan sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya, sehingga bangunan ini termasuk bangunan yang paling elite dan begitu dihormati pada masa itu. 
      Jika ditinjau dari Sejarahnya, tampaknya kedudukan raja di Pulau Nias pada masa lampau sama halnya seperti kedudukan raja yang terdapat di Tanah Batak, hal itu dibuktikan dengan kewenangan kekuasaan seorang raja di Pulau Nias yang tidak memiliki wilayah besar sebagai wilayah kekuasaannya, sebab seorang raja hanya menguasai wilayah yang kini kita sebut sebagai perkampungan. Namun uniknya, meskipun wilayah kekuasaannya tidak terlalu luas tapi sifat kepemimpinannya sangat berpengaruh. Sehingga tak jarang, raja-raja di Pulau Nias pada masa dahulu sering mengadakan musyawarah bersama tokoh-tokoh adat untuk mengambil suatu keputusan yang bermanfaat bagi wilayah yang dipimpinnya.
      Bangunan Omo Sebua ini terdiri dari tiang-tiang yang terbuat dari kayu khusus yang hanya ada di Pulau Nias dengan ukurannya lebar dan sangat besar. Bahan-bahan yang berasal dari kayu tersebut memang begitu mendominasi dalam pembangunan Omo Sebua ini, sehingga hampir di setiap ruangannya terlihat di dominasi oleh kayu, namun, seiring berjalannya waktu tampaknya kayu-kayu tersebut pun satu persatu mulai rapuh dan sudah tidak layak untuk menopang atap Omo Sebua, sehingga dilakukanlah peremajaan dengan mengganti beberapa tiang kayu yang sudah rusak dengan menggunakan baja ringan agar bangunan lebih kokoh.
      Fungsi didirikannya Omo Sebua yaitu sebagai tempat perlindungan ketika peristiwa pertikaian antar suku di Pulau Nias pecah kembali.


Pulau Kemaro, Sungai Musi

Tampilkan
      Pulau ini merupakan sebuah Delta kecil yang terletak di di Sungai Musi Sumatera Selatan, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di daerah kawasan industri, yaitu di antara ''Pabrik Pupuk Sriwijaya (PUSRI)'' dan ''Pertamina Plaju'' serta Sungai Gerong. Pulau kemaro berjarak sekitar 40 km dari kota Palembang. Pulau Kemaro adalah tempat rekreasi yg terkenal di Sungai Musi. Di tempat ini terdapat sebuah Vihara China (Klenteng Hok Tjing Rio). Di Pulau Kemaro ini juga terdapat Kuil Buddha yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke Makam. Di sana juga sering diadakan acara Cap Go Meh setiap Tahun Baru Imlek.

      Di Pulau Kemaro terdapat makam dari putri Palembang. Menurut legenda setempat, pada zaman dahulu, seorang putri Palembang dikirim untuk menikah dengan seorang anak raja dari China. Sang putri meminta 9 guci emas sebagai mas kawinnya. Untuk menghindari bajak laut maka guci-guci emas tersebut ditutup sayuran dan ketika sang anak raja membukanya dilihatnya hanya berisi sayuran maka guci-guci tersebut dibuangnya ke sungai. Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai dan juga tenggelam. Sang putri dikuburkan di Pulau Kemaro tersebut dan untuk mengenangnya dibangunlah Kuil.

      Daya tarik Kemaro adalah sebuah Pagoda berlantai 9 yang menjulang di tengah-tengah pulau. Bangunan ini baru dibangun tahun 2006. Selain pagoda ada Klenteng yang sudah ada sebelumnya. Klenteng Soei Goeat Kiong atau lebih dikenal Klenteng Kuan Im dibangun sejak tahun 1962. Di depan klenteng terdapat makam Tan Bun An (Pangeran) dan Siti Fatimah (Putri) yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau Kemaro.

      Selain itu ditempat ini juga terdapat sebuah Pohon yang disebut sebagai "Pohon Cinta" yang dilambangkan sebagai ritus "Cinta Sejati" antara dua bangsa dan dua budaya yang berbeda pada zaman dahulu antara ''Siti Fatimah'' Putri Kerajaan Sriwijaya dan ''Tan Bun An'' Pangeran dari RRC (Negeri China), konon, jika ada pasangan yang mengukir nama mereka di pohon tersebut maka hubungan mereka akan berlanjut sampai jenjang Pernikahan, karena itulah Pulau ini juga disebut sebagai ''Pulau Jodoh''.

Sumber : Wikipedia Edit : Surga Indonesia

Candi Prambanan Sleman Klaten

Tampilkan
      Prambanan merupakan nama sebuah desa yang memiliki sebuah candi dengan nama Candi Prambanan. Candi ini merupakan kompleks candi agama Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi, serta dikukuhkan di Indonesia sebagai suatu objek wisata kebudayaan pada tahun 1991. Candi ini juga termasuk candi yang banyak digemari oleh wisatawan asing dari mancanegara.
      Kaum agama hindu meyakini bahwa Candi Prambanan adalah sebagai hadiah persembahan manusia kepada para dewa, Khususnya Trimurti, yaitu tiga dewa utama Hindu. Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pemelihara), dan Shiwa (dewa pemusnah). Berdasarkan prasasti Siwagra kompleks candi ini bernama Siwagra (bahasa sansekerta) yang artinya rumah Siwa. ini yang menjadikan bukti bahwa dewa Siwa diutamakan pada candi ini.
      Candi Prambanan juga disebut dengan sebutan Candi Rara Jonggrang yang merupakan candi yang terdaftar pada Situs Warisan Dunia UNESCO sebagai candi terbesar di Indoensia sekaligus terindah se-Asia tenggara. Arsitektur pada bangunan candi ini sangaatlah unik  berbentuk ramping serta tinggi. Candi utama memiliki tinggi sekitar 47 m, menjulang ditengah-tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.
      Prambanan adalah candi Hindu yang terbesar dan yang termegah yang pernah dibangun di Jawa kuno, pembangunan candi Hindu ini dimulai oleh Rakai Pikatan (Mpu Manuku) sebagai tandingan dari candi agama Buddha yaitu candi Borobudur dan juga candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan. Beberapa sejarawan lama menduga bahwa pembangunan candi agung Hindu ini untuk menandai kembali berkuasanya Dinasti Sanjaya atas Jawa, hal ini terkait teori wangsa kembar berbeda keyakinan yang saling bersaing. Dengan dibangunnya candi ini menandai bahwa Hinduisme aliran Saiwa kembali mendapat dukungan keluarga kerajaan, setelah sebelumnya wangsa Sailendra cenderung lebih mendukung Buddha aliran Mahayana. Hal ini menandai bahwa kerajaan Medang beralih fokus dukungan keagamaanya, dari Buddha Mahayana ke pemujaan terhadap Siwa.
      Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan (Mpu Manuku) dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan Raja Balitung Maha Sambu. Berdasarkan prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, bangunan suci ini dibangun untuk memuliakan dewa Siwa. Dalam prasasti ini disebutkan bahwa saat pembangunan candi Siwagrha sedang berlangsung, dilakukan juga pekerjaan umum perubahan tata air untuk memindahkan aliran sungai di dekat candi ini. Sungai yang dimaksud adalah Sungai Opak yang mengalir dari utara ke selatan sepanjang sisi barat kompleks Candi Prambanan
      Awalnya sejarawan menduga bahwa aslinya aliran Sungai Opak berbelok melengkung ke arah timur, dan dianggap terlalu dekat dengan candi sehingga erosi sungai dapat membahayakan konstruksi candi. Proyek tata air ini dilakukan dengan membuat sodetan sungai baru yang memotong lengkung sungai dengan poros utara-selatan sepanjang dinding barat di luar kompleks candi. Bekas aliran sungai asli kemudian ditimbun untuk memberikan lahan yang lebih luas bagi pembangunan deretan candi perwara (candi pengawal atau candi pendamping).

Sate, Makanan Khas Indonesia

Tampilkan
      Sate merupakan makanan khas indonesia yang menduduki peringkat ke 14 Dunia dari World's 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat di Dunia). Makanan ini berasal dari Pulau Jawa, Indonesia yang juga tercatat sebagai Masakan Nasional Indonesia. Makanan ini juga di buat oleh orang Minangkabau (SUMBAR) Serta sangat populer dan tersebar di kota-kota besar tanah air bahkan Asia Tenggara.

      Sate memiliki banyak macam dan Versi masakan, diantaranya Sate Madura, Sate Tegal, Sate Padang dan lain sebagainya yang memiliki karakter khas Masing-Masing. hampir setip daging dapat dijadikan sate, hal ini terbukti dari adanya banyak macam sate yang sering kita lihat di wisata kuliner indonesia. Diantaranya : Sate Ayam, Kambing, Cumi, Ikan, Kerang, Buntel, Kikil, Kolong, Penyu, Belalang, bahkan Lalat pun dapat dijadikan sate.

      Ada banyak resep sate yang dibuat indonesia atau bahkan yang tesebar di dunia. Akan tetapi umumnya resep terpenting yang ada pada sate adalah sebagai berikut. Kunyit atau kecap manis adalah salah satu bumbu penting untuk membumbui daging sate dan memberikan warna serta rasa yang gurih pada Sate. Daging yang sudah ditusuki dan diberi bumbu baluran rendaman ini, kemudian dipanggang dalam bara api arang atau biasanya  agar lebih nikmat sate dipanggang di atas bara api yang berasal dari tempurung (batok) kelapa hingga matang. Sate dapat disajikan dengan saus kacang / bumbu kacang atau kecap manis, disertai potongan bawang merah dan mentimun. Disajikan dengan nasi putih panas, ketupat, atau lontong.

      Nama Sate berasal dari bahasa Tamil, karena sete dijual oleh pedagang makanan asal Jawa pada Awal abad ke-19 bertepatan dengan semakin banyaknya pendatang Muslim Tamil, Arab, dan Gujarat dari India ke Indoensia.  Hal ini pula yang menjadi alasan populernya penggunaan daging kambing dan domba sebagai bahan sate yang disukai oleh warga keturunan Arab. Dalam tradisi Muslim Indonesia, hari raya Idul Adha atau hari raya kurban adalah peristiwa istimewa. Pada hari raya kurban ini daging kurban berlimpah dan dibagikan kepada kaum dhuafa dan miskin. Kebanyakan merayakannya dengan bersama-sama memanggang sate daging kambing, domba, atau sapi.  Adapu pendapat bahwa asal kata sate berasal dari istilah Minnan-Tionghoa ''sa tae bak'' yang berarti tiga potong daging. Namun teori ini diragukan, karena secara tradisional, di Indonesia sate terdiri atas empat potong daging. Warga Tionghoa Indonesia juga mengadopsi dan mengembangkan sate sesuai selera mereka, yaitu sate babi yang disajikan dengan saus nanas atau kecap yang manis dengan tambahan bumbu-bumbu Tionghoa, sehingga sate Tionghoa memiliki cita rasa seperti hidangan daging panggang khas Tionghoa.

      Pada abad ke-19 istilah sate berpindah bersamaan dengan perpindahan pendatang Melayu dari Hindia Belanda menuju Afrika Selatan, di sana sate dikenal sebagai  sosatie. Orang Belanda juga membawa hidangan ini dan banyak hidangan khas Indonesia lainnya ke negeri Belanda, hingga kini seni memasak Indonesia juga memberi pengaruh kepada seni memasak Belanda. Sate ayam atau sate babi adalah salah satu lauk-pauk yang disajikan dalam hidangan Rijsttafel di Belanda.

Karapan Sapi Madura, Jawa Timur

Tampilkan

      Pacuan Sapi atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan "Karapan Sapi" adalah sebuah tradisi masyarakat Madura, Jawa Timur. Meskipun tidak diketahui persis kapan tradisi unik ini tercipta, akan tetapi tradisi ini telah dikenal masyarakat sejak abad ke-13 masehi. Masyarakat melakukan kegiatan Karapan Sapi ini sebagai pesta rakyat yakni ungkapan kegembiraan mereka atas panen Padi dan Tembakau yang mereka dapatkan dari sawah dengan bantuan pengolahan tanah (membajak tanah) oleh Sapi.

      Kegiatan balapan sapi ini diduga tercipta karena faktor alam di pulau madura yang memiliki lahan pertanian kurang subur, masyarakat memanfaatkan tenaga sepasang sapi untuk menggarap sawah mereka dengan alat yang terbuat dari bambu yang dikaitkan ke leher sapi tersebut. Yaa, pangeran ketandur (Sayyid Ahmad Baidawi), yang memanfaatkan Sapi untuk menyulap tanah yang tandus menjadi subur, beliau yang disebut-sebut sebagai Pencetus pertama tradisi ini.

      Ketika masyarakat berhasil atau pada saat panen raya, maka masyarakat bersama pemerintah setempat mengadakan  tradisi ini. Tradisi ini dilakukan setiap Agustus dan September setiap tahunnya, dengan pertandingan finalnya pada akhir bulan september hingga awal bulan oktober di Eks Kota Kepresidenan, yaitu memperebutkan piala bergilir Presiden.

      Pertandingan ini dilandasi oleh beberapa babak yaitu, babak pertama yaitu babak pemisahan antara golongan sapi yang menang dan sapi yang kalah, akan tetapi kedua kelompok tersebut masih bisa melanjutkan permainan. Pada babak ke dua yakni masuk kedalam babak pemilihan kembali, di babak ini setiap kelompok sapi baik kelompok sapi yang menang di babak pertama serta sapi yang kalah di babak pertama diadu kembali kecepatanya pada masing-masing kelompok, hingga yang direkrut hanya beberapa sapi yang berada pada urutan terdepan saja, sedangkan yang lainnya tidak bisa lagi mengikuti pertandingan. Babak ketiga atau semifinal, pada babak ini masing sapi yang menang pada masing-masing kelompok diadu kembali untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kelompok kalah. Pada babak keempat atau babak final, diadakan kembali yaitu untuk menentukan juara I (Pertama), II (Kedua), dan III (Ketiga) dari kelompok kalah.

      Awalnya tradisi ini pernah menjadi suatu tradisi yang mendapat tentangan dari pihak ulama Madura, mereka menuntut agar tradisi Karapan Sapi dilaksanakan dengan sewajarnya. Para ulama tersebut terheran-heran, walaupun tradisi ini memiliki sejarah yang tak lepas dari penyebaran agama islam, akan tetapi yang disayangkan oleh para ulama yaitu masih adanya kekerasan yang terjadi saat melaksanakan tradisi ini. Sapi yang mengikuti lomba sering kali di siksa dengan kekerasan, yaitu menyebat bagian belakang (pantat) Sapi dengan peralatan tumpul bahkan yang tajam hingga terluka, agar Sapi tersebut mau berlari kencang.

Recent Posts Widget | Surga Indonesia
 
Support : Website | Seni | Budaya
Copyright © 2013. Surga Indonesia - All Rights Reserved
Hubungi Kami Admin Surga Indonesia
Didukung Oleh FIKom Universitas Borobudur